Review Komik Mokushiroku no Yonkishi. Komik Mokushiroku no Yonkishi, yang lebih dikenal sebagai sekuel dari seri legendaris sebelumnya, kembali menjadi sorotan di akhir 2025 ini. Manga karya Nakaba Suzuki ini terus berlanjut dengan rilis chapter rutin, meski sempat ada hiatus singkat baru-baru ini, dan kini telah mencapai sekitar chapter 219 dengan volume tankobon ke-24 yang dirilis November lalu. Berlatar 16 tahun setelah peristiwa seri asli, cerita berpusat pada Percival, bocah polos yang hidup terpencil bersama kakeknya, hingga kehidupannya berubah drastis saat bertemu ksatria misterius yang mengungkap hubungan darah mengejutkan. Percival kemudian memulai petualangan untuk berkumpul dengan tiga ksatria lain yang diramalkan sebagai Four Knights of the Apocalypse, ditakdirkan membawa kehancuran dunia. Di tengah adaptasi anime yang telah menayangkan dua season, manga ini tetap jadi andalan bagi penggemar fantasy shounen yang suka elemen prophecy dan pertarungan epik. MAKNA LAGU
Alur Cerita yang Penuh Prophecy dan Aksi Epik: Review Komik Mokushiroku no Yonkishi
Mokushiroku no Yonkishi dimulai dengan nada ringan dan misterius: Percival meninggalkan tempat tinggalnya setelah tragedi, lalu bertemu teman-teman baru seperti Nasiens, Donny, dan Anne, sambil mengungkap kekuatan magic hope yang unik. Alur berkembang melalui perjalanan mengumpul empat ksatria – termasuk Tristan, Lancelot, dan Gawain – yang masing-masing punya latar belakang terkait karakter lama.
Suzuki membangun dunia Britannia yang lebih luas dengan ancaman Camelot abadi di bawah Arthur Pendragon yang korup, ditambah Chaos entities dan holy war baru. Di chapter terbaru akhir 2025, arc semakin intens dengan fokus pada Lancelot sebagai Knight of the Lake dan konfrontasi melawan kekuatan kegelapan yang mengancam prophecy. Meski pacing kadang lambat untuk build-up dunia dan karakter, twist prophecy yang sering berubah serta cameo dari generasi sebelumnya membuat cerita tetap segar dan unpredictable, terutama bagi yang sudah lelah dengan formula shounen standar.
Karakter yang Berkembang dan Nostalgia Generasi Baru: Review Komik Mokushiroku no Yonkishi
Percival sebagai protagonis utama digambarkan naif tapi berhati besar, dengan kekuatan hope yang tumbuh secara organik melalui pengalaman. Ia dikelilingi kelompok beragam: Tristan yang serius sebagai putra raja iblis dan dewi, Lancelot yang cool dan kuat telepathic, serta Gawain yang misterius dengan kekuatan sunrise. Karakter pendukung seperti Sin the fox dan holy knights baru menambah dinamika tim yang mirip tapi lebih fresh dibanding pendahulunya.
Suzuki berhasil menghadirkan nostalgia melalui anak-anak karakter ikonik, tanpa terasa dipaksakan, sambil memberikan arc pribadi yang mendalam seperti trauma masa kecil atau konflik identitas. Art style tetap khas dengan detail magic effect yang megah dan fight scene dinamis, meski ada kritik konsistensi di chapter awal. Banyak pembaca memuji bagaimana karakter wanita lebih aktif dan berkontribusi, serta hubungan persahabatan yang hangat di tengah tema kehancuran dunia.
Kelebihan serta Kritik dari Komunitas Pembaca
Mokushiroku no Yonkishi dipuji karena world-building yang lebih matang, prophecy kompleks yang tak hitam-putih, serta aksi yang semakin skalanya besar di arc terkini. Elemen humor, romance ringan, dan emotional payoff dari reuni generasi membuatnya addictive bagi fans lama, sementara newcomer bisa menikmati sebagai standalone. Adaptasi anime juga membantu menarik pembaca baru, meski manga tetap unggul dalam detail lore.
Di sisi lain, beberapa kritik menyebut Percival terlalu generic di awal dan pacing lambat sebelum four knights berkumpul lengkap. Ada juga keluhan tentang rehash trope holy war atau villain yang terlalu overpower. Namun, seiring chapter melewati 200, rating keseluruhan naik karena plot semakin bold dan karakter lebih berkembang. Di akhir 2025, dengan hiatus singkat yang baru berakhir, manga ini tetap recommended bagi yang suka sequel yang hormati original sambil bawa angin segar.
Kesimpulan
Mokushiroku no Yonkishi adalah sekuel shounen fantasy yang berhasil jaga api seri asli sambil tambah lapisan baru melalui prophecy dan karakter generasi berikutnya. Di akhir 2025, dengan chapter mendekati 220 dan arc semakin memuncak, ini saat ideal untuk catch up atau rewatching anime sambil baca manga. Bagi penggemar petualangan epik dengan campuran nostalgia dan inovasi, komik ini layak diikuti; ia membuktikan bahwa ramalan kehancuran bisa jadi awal cerita hebat yang penuh harapan. Meski tak sempurna, potensinya besar untuk jadi warisan setara pendahulunya jika terus konsisten.