Review Komik One Punch Man

review-komik-one-punch-man

Review Komik One Punch Man. Oktober 2025 jadi bulan supercharged buat penggemar One Punch Man, saat chapter manga baru dari Yusuke Murata siap rilis tanggal 8 di Viz Media, pas banget bareng debut episode 1 anime Season 3 di Crunchyroll pada 12 Oktober. Adaptasi Monster Association Arc ini dibintangi Saitama yang cuek tapi overpower, dengan trailer baru yang bocorin aksi Garou yang makin brutal. Manga asli, yang mulai dari webcomic ONE tahun 2009 dan di-remake Murata sejak 2012 di Tonari no Young Jump, udah capai 35 volume dan 34 juta copies sold global. Di tengah hype ini, review komiknya makin relevan—apalagi dengan redraw chapter Ninja Arc yang bikin fans debat sengit soal pacing. One Punch Man bukan cuma parodi superhero ala Saitama yang kalahin musuh satu pukul, tapi juga satire soal kebosanan kekuatan absolut. Yuk, kita kupas ulang komik legendaris ini dari sudut segar, tanpa spoiler berat, buat yang penasaran kenapa dia masih jadi benchmark shonen modern. BERITA BASKET

Ringkasan Cerita dari Komik Ini: Review Komik One Punch Man

One Punch Man berpusat pada Saitama, cowok biasa yang abis latihan 3 tahun nonstop—100 push-up, sit-up, squat, plus lari 10 km tiap hari—sampe botak dan dapet kekuatan absurd: bisa hajar monster apa pun cuma satu pukulan. Dia gabung Hero Association buat jadi pahlawan for fun, tapi malah bosen setengah mati karena nggak ada tantangan. Cerita campur humor slapstick sama action brutal, di mana Saitama sering telat atau cuek, sementara hero lain seperti Genos (cyborg muridnya) atau Bang (sensei bela diri) berjuang keras lawan ancaman.

Arus utama dibagi arc-arc epik. Introduction Arc perkenalin dunia di mana monster dan bencana harian jadi norma, dengan Saitama naik rank pelan-pelan meski overpowered. Sea Monster Arc dan House of Evolution Arc tambah layer soal asal-usul kekuatannya, sambil kenalin villain seperti Vaccine Man atau Deep Sea King. Alien Ship Arc bawa invasi Boros, yang jadi salah satu musuh pertama yang bikin Saitama agak serius. Monster Association Arc, puncak paruh pertama, gelapkan nada dengan perang besar melawan asosiasi monster di bawah Orochi, ungkap konspirasi Hero Association dan pertumbuhan Garou sebagai Hero Hunter. Setelah itu, Neo Heroes Saga mulai dengan organisasi hero baru yang ambisius, plus Ninja Village Arc yang gali backstory karakter seperti Flashy Flash—lengkap dengan redraw chapter 196 baru-baru ini yang balik ke roots webcomic ONE buat konsistensi plot.

Secara keseluruhan, komik ini bangun universe luas lewat side character kaya: dari Tatsumaki yang tsundere sampe King yang “palsu kuat” tapi lucu. Tema utama? Kekuatan nggak jamin bahagia—Saitama cari makna di balik satu pukulannya, sambil kritik birokrasi hero dan obsesi popularitas. Dari 155 chapter webcomic sampe 200+ di manga, cerita ini evolve dari gag ringan jadi epic dengan filosofi dalem soal usaha vs. bakat.

Kenapa Komik Ini Sangat Untuk Dibaca: Review Komik One Punch Man

Di 2025, pas anime S3 lagi bikin One Punch Man trending di Netflix dan Hulu, manga aslinya tetep wajib buat yang mau dalami lore tanpa adaptasi yang kadang nambah filler. Pacing chapter awal super nagih—bayangin Saitama hajar raksasa cuma sambil bilang “OK”—bikin ketawa sambil deg-degan nunggu twist. Artwork Murata emang next level: panel action dinamis, ekspresi Saitama yang datar kontras banget sama ledakan efek, dan desain monster yang detail bikin visual feast. Buat pemula, mulai dari volume 1 di Viz aja udah cukup bikin binge reading semaleman.

Lebih dari hiburan, komik ini relatable buat gen Z yang capek sama pressure “sukses cepat”: Saitama wakilin burnout dari overachievement, dorong refleksi soal apa yang bikin hidup berarti. Di Reddit dan X, fans sering rekomen manga daripada anime S1-S2 karena redraws Murata bikin fight scene lebih intense. Apalagi sekarang, dengan chapter baru besok dan S3 yang adaptasi arc ikonik, baca manga jadi cara perfect buat antisipasi—nggak ada yang lebih asyik daripada liat Saitama “nganggur” di tengah chaos hero lain. Kalau kamu lagi cari shonen yang campur satire Deadpool ala Jepang sama action Dragon Ball, ini jawabannya—timeless dan selalu fresh.

Sisi Positif dan Negatif dari Komik Ini

One Punch Man punya segudang sisi positif yang bikin dia best-seller abadi. Artwork Murata juara: dari shading rumit sampe splash page epik, bikin tiap chapter kayak seni museum. Humornya cerdas—parodi superhero trope seperti origin story klise atau rivalitas konyol—tapi dibalut action brutal yang satisfying. Karakter supportnya solid: Genos yang loyal, Fubuki yang ambisius, sampe Garou yang kompleks sebagai anti-hero, bikin universe terasa hidup tanpa bergantung Saitama doang. Arc tengah seperti Monster Association puncak kreativitas, dengan payoff emosional yang kuat dan world-building luas. Buat fans, manga ini juga inspirasi cosplay dan meme yang masih viral sampe sekarang, plus sales 34 juta copies bukti daya tarik globalnya.

Tapi, nggak lepas dari kritik. Sisi negatif terbesar adalah pacing yang bikin frustasi: redraws berulang di Ninja Arc—udah yang ketiga kalinya sampe chapter 196—bikin fans ngerasa “trapped in loop” selama dua tahun lebih, kurangin tension dan stakes karena cerita maju pelan. Paruh kedua manga kadang kehilangan momentum webcomic ONE yang lebih ringkas, dengan plot side story yang terlalu panjang dan kurang fokus pada Saitama. Beberapa karakter underutilized, seperti hero S-Class lain yang potensinya nggak tergali maksimal, dan romansa sub-plot hampir nggak ada—fokusnya pure action-humor. Di era sekarang, redraws ini dikritik karena bikin chronology confusing, meski Murata bilang buat kualitas lebih baik. Overall, positifnya tetep dominan buat yang suka visual bombastis, tapi bisa bikin capek buat yang cari plot linier ala My Hero Academia.

Kesimpulan: Review Komik One Punch Man

One Punch Man bukan cuma manga shonen; dia revolusi genre dengan Saitama yang bikin kita ketawa sambil mikir soal kekosongan kekuatan. Di Oktober 2025, pas chapter baru dan S3 anime lagi panas-panasnya, komik ini ingetin kenapa dia ikon: dari ringkasan cerita absurd tapi dalem sampe artwork yang bikin mata melek, meski pacing redraw-nya kadang bikin geleng kepala. Tite Kubo… eh, ONE dan Murata buktiin, satu pukulan bisa ubah segalanya—termasuk ekspektasi pembaca. Kalau kamu lagi scroll Viz buat bacaan baru, ambil volume 1 sekarang; siap-siap ketagihan, karena di akhir, One Punch Man ajarin: terkadang, yang terkuat justru yang paling kesepian. Dan itu, yang bikin dia tak tergantikan.

 

BACA SELENGKAPNYA DI..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *