Review Komik The Beginning After The End. The Beginning After The End (TBATE) karya TurtleMe dengan ilustrasi Fuyuki23 tetap menjadi salah satu manhwa isekai paling dibicarakan hingga 2026. Cerita tentang Arthur Leywin—raja Grey yang bereinkarnasi ke dunia sihir setelah kematian tragis—telah menarik jutaan pembaca sejak web novel rilis 2017 dan manhwa dimulai 2018. Dengan arc terbaru yang masih berjalan dan adaptasi anime season pertama sukses besar, TBATE terus jadi tolok ukur genre reinkarnasi dan power progression. Manhwa ini dikenal karena dunia yang kaya, karakter yang berkembang, serta seni yang semakin matang. Namun, ada juga kritik soal pacing lambat di beberapa arc dan ekspektasi tinggi yang kadang tidak terpenuhi. Review ini membahas kekuatan utama cerita, karakter, seni, serta kelemahan yang sering muncul di diskusi pembaca. BERITA OLAHRAGA
Alur Cerita yang Kaya dan Dunia yang Hidup: Review Komik The Beginning After The End
TBATE punya alur yang sangat kuat di awal: Arthur lahir kembali dengan ingatan masa lalu sebagai raja, langsung tunjukkan bakat luar biasa di dunia sihir dan pedang. Cerita dibagi fase jelas—masa kecil di desa, akademi, perang melawan Alacrya, hingga konflik antar ras dan dewa. Dunia dibangun detail: ada sistem mana core, affinity elemen, beast will, serta politik antar kerajaan dan ras elf, dwarf, manusia. Arc seperti war arc melawan Alacrya atau konflik dengan Agrona penuh strategi, pengkhianatan, dan pertarungan skala besar yang bikin pembaca tegang. Pacing memang lambat di bagian masa kecil dan akademi—banyak yang bilang terlalu banyak slice-of-life—tapi itu sengaja untuk membangun emosi dan attachment ke karakter. Ending web novel kontroversial karena terasa rushed, tapi manhwa masih punya ruang memperbaiki dan memperdalam beberapa bagian. Secara keseluruhan, dunia TBATE salah satu yang paling solid di genre isekai, dengan lore yang konsisten dan tidak terasa dipaksakan.
Karakter Utama dan Pendukung yang Berkembang Baik: Review Komik The Beginning After The End
Arthur Leywin adalah protagonis yang jarang ditemui: pintar, dewasa karena ingatan masa lalu, tapi tetap punya sisi manusiawi—takut kehilangan keluarga, merasa bersalah atas kegagalan, dan berjuang menyeimbangkan kekuatan dengan moral. Perkembangannya dari anak kecil berbakat jadi pejuang legendaris terasa natural dan memuaskan. Karakter pendukung seperti Tessia, Sylvie, Regis, dan Virion punya arc sendiri yang kuat—Tessia dari putri elf polos jadi pejuang tangguh, Sylvie dari naga kecil jadi partner setia. Bahkan antagonis seperti Agrona dan Cadell diberi motivasi yang masuk akal, bukan sekadar jahat karena jahat. Romance Arthur-Tessia berkembang pelan tapi manis, tanpa terasa dipaksakan. Kelemahan terbesar adalah beberapa side character (terutama di arc akademi) terasa kurang dimanfaatkan dan hanya jadi alat plot. Tapi secara keseluruhan, cast TBATE jauh lebih hidup dibanding kebanyakan isekai lain yang hanya fokus pada MC overpower.
Seni dan Aksi yang Semakin Matang
Seni Fuyuki23 adalah salah satu alasan utama TBATE bertahan lama. Awalnya sederhana, tapi sejak arc perang kualitas melonjak drastis—panel dinamis, efek sihir detail, ekspresi karakter emosional, dan desain monster serta armor luar biasa. Pertarungan seperti Arthur vs Cadell atau Tessia vs Seris punya koreografi epik, campur sihir, pedang, dan emosi. Warna yang semakin kaya di chapter terbaru membuat setiap halaman terasa seperti lukisan bergerak. Aksi tidak hanya soal kekuatan mentah—ada strategi, taktik, dan konsekuensi emosional yang bikin setiap fight punya bobot. Kelemahan seni mungkin hanya di chapter awal yang terasa kurang halus, tapi itu wajar karena tim berkembang seiring waktu. Secara keseluruhan, seni TBATE termasuk papan atas di manhwa action-fantasy saat ini.
Kesimpulan
The Beginning After The End adalah manhwa isekai yang sukses besar karena dunia detail, karakter yang berkembang alami, seni aksi memukau, dan pacing yang meski lambat di awal tapi membangun emosi kuat. Meski dikritik karena plot terlalu fokus pada MC overpower dan beberapa arc terasa bertele-tele, kekuatannya di lore konsisten, pertarungan epik, dan ending yang emosional membuatnya tetap jadi rekomendasi utama genre ini. Cocok buat pembaca yang suka power progression dengan cerita serius dan dunia yang hidup, tapi kurang pas kalau cari romance berat atau side character sangat dalam. Skor keseluruhan 8.8/10—wajib baca untuk fans fantasy reinkarnasi yang ingin cerita panjang dengan payoff memuaskan. Manhwa ini bukan sekadar “naik level biasa”, tapi perjalanan penuh pengorbanan dan penebusan yang sulit dilupakan.