Review Komik A Bad Person

review-komik-a-bad-person

Review Komik A Bad Person. Di tengah gelombang manhwa romansa sekolah yang penuh trope klise, A Bad Person muncul sebagai cerita segar tentang transformasi identitas yang relatable. Serial karya Dooms ini, rilis sejak 2020 dan kini tembus 130 chapter lebih, ikuti Kang Ji-woong—pemuda baik hati yang habiskan 10 tahun ubah diri jadi “ideal man” demi gebetan. Tapi saat gadis itu bilang suka bad boy, ia putuskan jadi “orang jahat” sungguhan. Genre campur action, comedy, drama, dan romance bikin manhwa ini populer di kalangan pembaca yang suka cerita self-discovery dengan sentuhan gangster. Review ini kupas kenapa serial ini tetap worth baca di 2025, meski pacing kadang bikin penasaran. BERITA BOLA

Transformasi MC dari Nice Guy ke Anti-Hero: Review Komik A Bad Person

Kang Ji-woong mulai sebagai karakter yang bikin empati: rajin belajar, sopan, dan rela ubah gaya demi Han Soo-jin, gebetan masa kecilnya. Tapi penolakan halus—”Aku suka bad boy”—picu perubahan drastis. Ia potong rambut gondrong, pakai jaket kulit, dan belajar sikap cuek dari teman gangster. Chapter awal penuh komedi: ia coba pukul orang tapi malah ragu, atau pura-pura galak tapi hati tetap lembut.

Makna inti: kritik trope “nice guy syndrome”. Ji-woong belajar jadi “bad” bukan buat Soo-jin, tapi temukan jati diri—dari pasif jadi proaktif. Tapi transformasinya tak mulus; ia sering gagal lucu, seperti saat coba intimidasi tapi malah bantu korban. Ini bikin pembaca root untuknya, karena Ji-woong tetap baik di balik topeng—sebuah pesan bahwa “bad” tak selalu jahat, tapi berani ambil risiko.

Dinamika Romansa dan Karakter Pendukung yang Kuat: Review Komik A Bad Person

Romansa jadi jantung cerita: Soo-jin, si gadis populer yang ternyata manipulatif, kontras dengan Yeji Lee—gadis biasa yang lihat sisi asli Ji-woong. Yeji muncul sebagai true heroine: ia dukung perubahan Ji-woong tanpa judgement, bikin love triangle terasa organik. Chapter 50-an maju saat Ji-woong sadar Soo-jin suka bad boy palsu, sementara Yeji hargai kebaikan aslinya.

Karakter pendukung tambah kedalaman: teman Ji-woong seperti Shin Gyeong-cheol, bos gangster bijak, bantu ia navigasi dunia bawah. Keluarga gangsternya—paman-paman kasar tapi protektif—bikin cerita campur humor keluarga dan action ringan. Tapi kritik: Soo-jin kadang terlalu “bitchy” tanpa redemption, bikin pembaca frustasi. Secara keseluruhan, dinamika ini bikin romansa terasa dewasa, bukan cuma fanservice.

Seni Dinamis dan Pacing yang Naik-Turun

Seni Dooms standout: panel action tajam saat Ji-woong coba jadi gangster—garis tebal untuk pukulan, ekspresi wajah lucu untuk momen gagal. Background sekolah dan gang kota terasa hidup, dengan shading halus untuk emosi introspeksi. Chapter 100-an tingkatkan intensitas visual saat konflik keluarga gangster meledak, campur darah dan tawa.

Pacing awal lambat tapi engaging—fokus build karakter di chapter 1-30. Tengah cerita naik saat Ji-woong terlibat perang geng kecil, tapi kadang terasa repetitif dengan “gagal jadi bad boy”. Update mingguan bikin hook kuat, terutama misteri latar belakang keluarganya. Kekurangan: romansa kadang overshadow action, tapi itu justru bikin manhwa ini beda dari genre pure fighting.

Kesimpulan

A Bad Person adalah manhwa romansa yang pintar mainkan ekspektasi—dari transformasi lucu Ji-woong sampe dinamika cinta dewasa, dengan seni yang dukung cerita emosional. Skor 8.5/10: bagus buat pembaca yang suka self-growth campur comedy, meski pacing butuh kesabaran. Serial ini ingatkan: jadi “bad” tak berarti hilang baik hati, tapi belajar lindungi diri. Lanjut baca kalau suka cerita di mana MC tak langsung OP—di sini, perubahan pelan tapi nyata, seperti hidup asli.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *